
Lobster air tawar ber-genus Cherax dari famili parastacidae baru mulai dikembangkan untuk budidaya petani ikan diIndonesia pada tahun 2000. Hal ini disebabkan karena banyak masyarakatIndonesia yang masih belum mengenal sosok fisik lobster air tawar, padahal selain memiliki fisik yang menarik untuk dijadikan udang hias, lobster juga dapat digunakan untuk udang konsumsi yang harganya mahal sebagai penyedia protein hewani (Sukmajaya, 2003).
Lobster memiliki karakteristik yang berbeda dengan udang jenis lain. Rasa daging lobster air tawar lebih enak, kenyal dan gurihnya melebihi lobster air laut. Selain itu lobster air tawar memiliki lemak, kolesterol dan garam yang rendah sehingga aman dikonsumsi untuk semua kalangan. Kandungan seng cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan vitalitas pada manusia (Hartono et al., 2005). Kelebihan lain lobster air tawar yaitu karakternya yang tidak mudah stress dan tidak mudah terserang penyakit. Asalkan kebutuhan pakan, kualitas air dan kebutuhan oksigen terpenuhi maka lobster dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan cepat (Hartono et al., 2005).\
Lobster menghendaki air yang kaya oksigen. Kadar oksigen yang optimal adalah 5 ppm. Untuk meningkatkan kadar oksigen biasanya ditambahkan aerator atau jika memungkinkan diberikan aliran air terus menerus. Lobster juga peka terhadap minyak, pestisida, sabun dan kadar amoniak.
Berkembangnya usaha budidaya lobster air tawar tidak terlepas dari tingginya permintaan pasar, terutama ekspor luar negeri. Namun belum ada data pasti mengenai permintaan lobster air tawar oleh beberapa Negara. Harga lobster dalam negeri pun cukup mahal dibandingkan harga udang yang lain, yaitu Rp 200.000 – Rp 300.000 per kg (Hartono et al., 2005).